Aku dan waktu, keputusan yang tak terelakkan
Bukan aku, tapi karena harus begitu adanya
Gemuruh angin menyambut kabut, karena amukan yang tak terduga
Tapi bukan mauku, karena memang begitu adanya
Kini ada riuh yang kudengar, karena angin meniup
Entah dari mana mulanya, tapi aku telah ada di sini
Karena kamu, dan memang harus begitu
Karena keputusanmu, aku ada di jalanmu
Aku berjalan di jalanmu, dengan riuh yang tajam
Aku telah tahu sebelum riuh itu, karena diciptakan untuk itu
Tapi aku juga tak tahu, apa maksudnya
Memang kita beda cerita, meski terlahir dari rahim yang sama
Tapi memiliki darah merah yang berbeda rasa
Bukan kamu, bukan juga aku
Tapi karena rahim itu, yang membuat kita berbeda
Meski dari rahim yang sama
Kau dan aku, kita dalam lembar yang sama
Tapi berbeda alur, sebuah kisah yang berbeda
Aku berharap pada rahim, dari mana aku berasal
Entah kapan ia merangkul
Aku dan kau, kini masih berbeda kisah
Meski dalam kisah yang sama, dalam lembar yang sama
Tapi berbeda peran, sejak awal cerita ditulis
Aku masih disini, membaca untain kata puitis
Yang dikisahkan, sedangkan kau disana menikmati cerita
Dari lembar yang sama, aku menafsir isi cerita
Dalam kisah yang sama, kau menikmati isi alur cerita
Di sini, di singgasana anta beranta
Ada kisah dalam lembar yang sama
Ada dua sosok, terlahir dari rahim yang sama
Tapi ada satu yang diberikan, pada satu karakter
Ada tuba pada karakter yang lain
Entahlah... aku masih disini, membaca kisah
Dalam untain kisah yang tertulis, tak ku tau apa maknanya
Mungkin hanya kau, dia yang tau... atau harus ku katakan
Agar kau tau, apa maksudmu itu... karenanya
Pada itunya, kau ku katakan... ENTALAH...
Agustinus Nuradarmada, S.Pd.,Gr
7 Maret 2026

0 komentar:
Posting Komentar